PADALARANG — Warga Desa Ciburuy menundukkan kepala dan memanjatkan doa bersama di tengah langit yang masih kering. Shalat Istisqa digelar sebagai permohonan agar hujan segera turun, sekaligus sarana introspeksi diri dan mempererat silaturahmi antarwarga.
Ketua MUI Desa Ciburuy, M. Abdul Khoerudin, menegaskan bahwa tujuan utama ibadah ini adalah bermunajat kepada Allah SWT. Ia menyebut shalat Istisqa bukan sekadar ritual permohonan hujan, melainkan juga momentum memperkuat kebersamaan warga.
"Tujuan paling pokok yaitu kita bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk memohon ampun," ujar M. Abdul Khoerudin.
Harapan Warga Ciburuy: Hujan yang Membawa Kemaslahatan
Abdul Khoerudin berharap doa dan kebersamaan warga melalui shalat Istisqa menjadi ikhtiar menghadapi kondisi kemarau yang terjadi saat ini. Ia memanjatkan harapan agar hujan yang turun nanti membawa keberkahan, bukan bencana.
"Mudah-mudahan dengan diadakannya silaturahmi dan munajat melalui shalat sunnah Istisqa ini, kami semua, khususnya yang ada di wilayah Desa Ciburuy dan umumnya muslim-muslimat di sekitarnya, diberikan hujan yang membawa kemaslahatan dan keberkahan bagi kita semua," tuturnya.
Air, Kebutuhan yang Tak Bisa Ditunda
Bagi warga Ciburuy, turunnya hujan bukan sekadar perubahan cuaca. Air menjadi kebutuhan penting bagi kehidupan sehari-hari dan aktivitas masyarakat. Kemarau yang berkepanjangan membuat warga semakin bergantung pada pasokan air yang terus menyusut.
Melalui shalat Istisqa, pemerintah desa dan MUI Ciburuy berharap kebersamaan serta kepedulian warga semakin kuat dalam menghadapi dampak kemarau. Ibadah ini menjadi ruang bagi warga untuk saling menguatkan, bukan hanya memohon hujan.
Di tengah langit yang masih kering, warga memilih menyatukan harapan dalam doa. Mereka memohon agar hujan segera turun dan membawa kemaslahatan bagi kehidupan masyarakat Desa Ciburuy dan sekitarnya.